“Alhamdulillah, akhirnya proses belajar selama 4 tahun di pondok pesantren Husnul Khotimah ini telah selesai”
Dengungku dalam hati ketika keluar dari kelas sehabis mengerjakan soal Ujian Nasional di hari terakhir. Hari itu tampak suasana kebahagiaan di raut wajah-wajah teman-teman seperjuanganku selama mengemban ilmu di pondok pesantren itu. Aku pun merasakannya, kepuasan yang tak terkira, yang tak akan bisa ku dapatkan jika ku hanya sekolah di SMA biasa. Beruntung aku bisa sekolah di sekolah yang luar biasa ini, yang telah mengajarkanku arti dari sebuah kehidupan dan perjuangan, yang membuat diriku menjadi lebih dewasa, dan yang pasti telah membuatku menjadi sesosok orang yang siap untuk menghadapi kerasnya seluruh tantangan hidup dikemudian hari. Semuanya saling bersalam-salaman sambil berfoto-foto ria di depan kelas dan di lapangan. Sungguh suasana yang tak akan ku lihat lagi dikemudian hari.
Ketika itu Ustadz Latifudin selaku ketua BPBK langsung mengumpulkan kami semua dan memberikan sedikit taujih yang diantaranya beliau berkata kurang lebih seperti ini “Hari ini bukanlah akhir dari kita-kita menuntut ilmu, namun hari ini adalah awal dari sebuah perjuangan untuk menuntut ilmu yang lebih banyak lagi”. Kata-kata itu masih melekat erat didalam syaraf otakku yang paling dalam.
Hari itu bebas, jika ingin keluar pondok sudah tidak harus memakai surat izin lagi, tinggal melambaikan tangan pada satpam sambil berjalan keluar pondok. Di Ponpesku satu kamar terdiri dari kurang lebih 30-an orang. Setelah ganti baju kami bercanda-canda di kamar merasakan kebahagiaan yang tak terkira, bayangkan saja kami santri disana ada yang menuntut ilmu selama 6 tahun yang dari MTs dan dari I’dad selama 4 tahun yang selama ini hidup didalam pondok yang penuh aturan, sebentar lagi akan merasakan udara kebebasan.
Setelah dzuhur tiba seperti biasa seluruh santri langsung ke masjid dan shalat dzuhur berjama’ah. Setelah shalat dan dzikirku selesai, aku dan sahabatku Fiqi pergi ke toserba fajar untuk membeli perlengkapan untuk mendaki karena esoknya kami satu angkatan akan mendaki gunung Ciremai yang letaknya tak jauh dari pondokku selama dua hari satu malam. Singkat cerita esok pun tiba dan kami mendaki gunung Ciremai sampai puncak, berfoto-foto ria, dan turun lagi. Saat itu sampai di pondok malam hari dan aku kelaparan, karena tidak ada makanan lagi aku pun langsung menyantap 2 bungkus mie instant sisa dari bekal pendakianku setelah itu langsung tidur. Paginya aku memutuskan untuk pulang ke rumah sebelum esok lusanya kami akan rihlah ke Yogyakarta yang sudah direncanakan jauh-jauh hari sebelum UN. Ponpes Husnul Khotimah terletak di Kabupaten Kuningan, tidak terlalu jauh dari rumahku yang ada di Cirebon, hanya butuh kurang lebih satu jam perjalanannya pertama naik mobil elf sampai Toserba Yogya Rajawali yang sekarang sudah menjadi Rajawali Trade Center (RTC) lalu naik angkot D6 atau D5 yang mau ke arah SMAN 3 Cirebon dan dilanjut naik becak sampai rumah karena tidak ada angkot lagi yang ke arah daerah rumahku.
Sesampainya di rumah aku langsung istirahat dan bercanda dengan adikku yang paling kecil masih kelas 5 SD karena orang tuaku semuanya sedang bekerja, jadi tidak ada di rumah. Ketika itu aku di rumah hanya bermain Play Station dan sorenya jalan-jalan naik motor menghirup udara Cirebon di sore hari bersama adik kecilku itu. Malamnya berkumpul bersama keluarga sambil menonton televisi di ruang tengah setelah itu langsung tidur.
Ketika bangun subuh ingin mengambil air wudhu, perutku terasa sakit tetapi aku rasa saat itu bukan sakit perut, sakit seperti mag yang sedikit melilit. Namun aku tidak menghiraukannya karena sebelum-sebelumnya aku pernah mengalami itu dan lama kelamaan selalu sembuh sendiri. Sore sekitar jam 5 aku berangkat lagi ke pondok karena jam 11 malamnya aku akan berangkat rihlah ke Yogyakarta bersama teman-teman seperjuangan. Ketika itu perutku masih terasa sakit, namun aku masih mengabaikannya karena dugaanku masih sama seperti yang sebelumnya. Ketika sampai pondok terlihat suasana teman-temanku yang sedang menyiapkan barang-barangnya sambil bercanda tawa. Tak terasa jam 11 malam pun tiba, kami langsung bersiap-siap menuju bus. Kami berangkat dengan 2 bus, dan aku kebagian duduk di bus kedua dan duduk bersebelahan dengan sahabatku fiqi. Pada awalnya suasana di dalam bus masih ramai dengan canda dan tawaan teman-temanku, tapi karena malam semakin larut lama-kelamaan satu per satu dari mereka pun tumbang karena kantuk yang tak tertahankan, begitu juga diriku. Sebelum ku hendak tidur aku merasa lega karena sakit perutku sudah tak terasa lagi, lalu aku mengangkat lututku menekuk dan menekan sandaran tempat duduk didepanku dahulu agar mendapatkan posisi ternyaman untuk tidur dan aku pun akhirnya tertidur.
Beberapa jam kemudian aku terbangun, aku melihat fiqi dan teman-teman disekelilingku tertidur, karena aku merasa tubuhku terasa pegal, aku pun ingin mengubah posisiku yang dari tadi selama berjam-jam posisinya tidak berubah. Tapi ketika aku turunkan lututku.
“krek”
Tiba-tiba perutku terasa sakit yang tak tertahankan, rasanya perutku seperti melilit dan ditekan dengan kerasnya sehingga bernafaspun aku tak mampu, aku hanya bisa mengeluarkan suara rintihan kecil sambil menahan sakit. Lama kelamaan pandanganku semakin kacau dan saat itu aku hanya bisa mendongakan kepalaku ke atas sambil memegang perutku seraya berdoa dan berdzikir, tiba-tiba aku pun tak sadarkan diri hingga pagi tiba. Semenjak itu perutku selalu melilit walaupun tak sesakit waktu malam. Ketika sampai di gua batu jajar kepalaku terasa sakit tapi ku paksakan untuk tetap ingin turun dari bus, tapi ketika ku bangkit dari tempat duduk perutku langsung terasa sakit melilit lagi. Aku bungkukan sedikit badanku dan sakitnya pun berkurang, tapi aku merasa tak kuat jadi aku tidak jadi untuk turun dan lebih memilih untuk istirahat saja di dalam bus. Banyak temanku yang bilang kalau sakitku itu mungkin hanya mag biasa sehingga aku tak terlalu mengkhawatirkannya. Singkat cerita selama rihlah ke yogya aku tak bisa menikmatinya seperti teman-teman yang lain, kecuali Fiqi yang selalu menemaniku karena aku tak bisa jalan secara normal yang harus membungkukan badan dan melangkah dengan pelan agar sakit di perutku tak terasa. Padahal tujuan kami waktu itu ke beberapa kawasan wisata di Yogya seperti gua batu jajar, keteppas, candi borobudur, pantai parangtritis, malioboro, dll. Akhirnya rihlah ke Yogya selama 2 hari 3 malam pun selesai, kami sampai di pondok sekitar jam 3 pagi, dan aku pun langsung tidur.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Klo mau komen pake bahasa yang baik n santun ya