Rabu, 03 Agustus 2011

Ketika hari esok terasa tak akan datang kembali... (Bagian 2)


Pagi harinya aku langsung ke klinik yang sudah disediakan oleh pondok untuk memeriksa sakit perutku. Ternyata dokter mengkhawatirkan kalau aku terkena infeksi di bagian usus buntu karena letak sakit perutnya yang berada di sebelah kanan. Lalu aku kembali dan ke kamar dan beristirahat. Di kamar teman-temanku menyarankan agar aku segera pulang untuk mengetahui kepastian sakit yang ada di perutku itu, tapi aku perlu istirahat dahulu karena tak mampu untuk berjalan dari pondok menuju jalan utama Kuningan-Cirebon. Setelah istirahat sampai jam 2-an akhirnya aku pulang dengan di antar naik motor oleh Nugraha, satu-satunya santri yang rumahnya paling dekat dengan pondok sampai jalan utama Kuningan-Cirebon. Lalu dari situ sampai ke cirebon aku menaiki elf. Sampai toserba yogya rajawali aku di jemput oleh ibuku dengan menaiki motor dan langsung di bawa ke dokter umum di dekat rumahku. Saat itu suasana sangat mendung dan angin pun bertiup kencang seakan memberitahuku akan ada sesuatu yang sangat mengerikan dan harus kuhadapi sendiri. Ketika diperiksa oleh dokter itu, hasilnya sama seperti waktu di klinik pondok,  dokter itu langsung menyarankan kepada ibuku agar langsung dibawa ke rumah sakit. Akhirnya aku langsung dibawa ke rumah sakit khusus bedah di Cirebon dengan menggunakan mobil tetangga karena ayahku saat itu sedang bertugas keluar kota untuk menyelesaikan tugasnya.
Sesampainya di rumah sakit aku langsung diperiksa oleh dokter, lalu dokter itu berkata pada ibuku
                “Ia bu, ini harus segera di angkat”
                “Kapan dok?” tanya ibuku.
                “Secepatnya, karena kalau tidak cepat-cepat diangkat dikhawatirkan ususnya akan pecah di dalam dan nanahnya akan menyebar lalu membusuk hingga bisa mengakibatkan kematian.”

                “Astaghfirullah, apa salahku? Kenapa ini bisa terjadi?” rintihku dalam hati bercampur kaget arena sebelumnya tak pernah ku bayangkan.

                Lalu dokter itu bertanya padaku, “Nak sidik kapan terakhir makan?”
                “Tadi siang dok jam 11-an” jawabku sekenanya.
                “oh kalau begitu bisa langsung malam ini jam 11, karena ada 3 pasien yang akan di operasi juga”
                Saat itu pikiranku semakin tidak jelas, aku tak bisa membayangkan bagaimana nantinya ketika aku di operasi. Pikiranku melayang tak tentu arah, suasana rumah sakit yang agak ramai malah menjadi sangat mengerikan bagiku. Orang-orang yang bersliweran kesana kemari menjadi sangat menakutkan ditambah suara hujan lebat disertai deruan angin yang sangat kencang diluar rumah sakit. Ada dua pertanyaan yang saat itu tiba-tiba sangat melekat dikepalaku.
                “Jika nanti malam aku dioperasi, apakah esok pagi aku masih bisa melihat indahnya dunia? Dan jika tidak, apakah bekalku sudah cukup untuk menghadap pada-Nya?”
                Ketakutan yang amat sangat tengah ku rasakan saat itu, ibuku hanya bisa tersenyum melihatku sambil mengurus surat-surat kelengkapanku untuk memperlancar proses operasi nanti. Tiba-tiba aku ingat bahwa semua kemungkinan itu ada dan masalah kematian hanya Allah yang tau, semua makhluk yang bernafas akan merasakan kematian. Saat itu aku sedikit merasa tenang, aku langsung memposisikan jika kemungkinan esok tak akan lagi datang padaku. Aku langsung mengirim pesan pada semua teman-temanku yang nomor HPnya ada di kontak Hpku. Aku meminta maaf kepada semua teman-temanku lewat SMS yang ku kirim satu persatu. Walaupun sebenarnya hati ini merasakan kecemasan yang amat sangat, namun jangan sampai terlihat oleh semua orang disekitarku. Saat setelah di periksa, suster langsung membawaku ke suatu ruangan dengan memakai kursi roda. Aku masih merasakan ketakutan itu, takut hari esok tak akan pernah datang lagi padaku. Lorong demi lorong ku lewati bersama suster itu, suasana sepi dan senyap hanya kadang terlihat suster yang lewat kesan-kemari. Sesampainya di ruangan itu sudah ada dua orang laki-laki memakai baju putih yang satunya sedang memegang suntikan dan yang satunya sepertinya tengah mempersiapkan suatu alat. Laki-laki yang memegang suntikan itu langsung menghampiriku, lalu dia mengusap-usap bagian tanganku yang akan disuntik dengan memakai kapas dan segera menyuntikan suntikannya dan menyedot darahku, mungkin untuk dijadikan sampel darah. Setelah itu aku langsung dibawa menuju alat yang tengah dipersiapkan tadi oleh laki-laki yang satunya, lalu aku di tuntun olehnya karena ku tak bisa berjalan normal lagi untuk di rontgen. Setelah itu aku dibawa kembali untuk menuju ke kamar. Proses persiapan operasi telah selesai, aku langsung di infus dan sudah mulai boleh dikunjungi sebelum di operasi.
                Waktu itu pukul 7 malam, ibuku sedang pulang untuk membawa barang-barang yang di perlukan selama aku di rawat di rumah sakit yang menemaniku hanya adikku yang perempuan. Selama satu jam aku mengobrol dengannya tentang apa saja yang waktu itu bisa di obrolkan, setelah itu ada satu temanku yang dari pesantren juga yang datang. Aku cukup merasa senang walaupun ketakutan hari esok yang tak akan datang lagi padaku masih terngiang-ngiang di kepala. Lalu aku pun bercerita-cerita dengannya sambil sesekali mataku melirik jam yang ada di dinding, namun ketika waktu menunjukan pukul setengah 10, aku mulai merasa mengantuk dan tertidur di tengah-tengah obrolan itu. Hanya sebentar aku tertidur karena jam sepuluh aku dibangunkan oleh suster yang akan membawaku ke ruang tunggu operasi sekaligus dengan ranjang tempat aku tidur. Ibu dan adikku turut mengikutiku melewati lorong-lorong rumah sakit menuju ruang tunggu operasi. Terlihat di raut muka keduanya harap-harap cemas, saat itu aku sangat ingin menangis, takut hari esok tak akan datang lagi dan aku tak bisa melihat mereka lagi apalagi ayahku yang sudah lama aku belum melihatnya semenjak aku beberapa bulan karena aku tinggal di pesantren, tapi aku tak bisa, aku harus kuat, aku harus memperlihatkan raut muka yang optimis agar keluargaku tak terlalu mencemaskanku ketika proses operasi berjalan.
                Sesampainya di depan pintu ruang tunggu operasi ibu dan adikku tidak diperkenankan untuk ikut masuk kembali, aku hanya bisa terdiam dan pasrah sambil memejamkan mata dalam-dalam agar air mata itu tak keluar dari sela-sela mataku. Sesampainya di ruang tunggu operasi suster itu langsung meninggalkanku tepat di bawah AC yang di setting sangat dingin, mungkin agar mempermudah proses operasiku nanti. Sambil berbaring mataku menerawang ke atas langit-langit rumah sakit, tatapanku kosong. Hanya terlihat lampu yang terang menyinari ruangan itu. Dari luar terdengar suara rintikkan air hujan yang menetes-netes diselingi suara angin yang bertiup agak sedikit kencang. Dari ruangan tunggu itu terlihat ruangan operasi yang berada tepat disebelah ruangan tungguku. Keadaan didalam bisa sedikit terlihat karena ruangannya hanya ditutup dengan kaca yang buram dan cahaya di dalam yang lebih terlihat terang dibanding ruanganku. Didalamnya terlihat ada 3 bayangan orang yang sedang menunduk dan seperti memainkan tangan-tangannya dan beberapa bayangan lain sedang berdiri entah sedang apa. Aku hanya bisa terdiam dan kembali menerawang ke langit-langit ruangan itu. Walaupun aku terlihat tenang, namun hatiku saat itu menjerit. Hanya Allah dan aku yang tau kondisi hatiku saat itu. Ya Allah, jika hari ini adalah hari terakhir bagiku, apakah aku sudah siap untuk menghadapMu? Apakah amalan ku sudah cukup untuk mengantarkanku ke dalam Jannah-Mu? Apakah masih ada diantara teman-temanku yang benci kepadaku? Apakah masih ada hutang yang belum terbayarkan? Apakah aku pantas untuk berkumpul dengan para Rasul, sahabatnya, serta tabi’in dan tabi’atnya? Aku tak bisa menjawab satupun pertanyaan-pertanyaanku sendiri. Hanya tatapan kosong yang bisa kulakukan. Detik demi detik, menit demi menit berlalu. Tubuhku terjaga karena rasa takut jika ku memejamkan  mata sekarang, esok tak bisa terbuka lagi. Setelah kurang lebih satu jam aku menunggu, jam sebelas malam pintu ruang operasi terbuka. Terlihat pasien yang baru dioperasi dibawa oleh beberapa suster bersama ranjangnya keluar ruangan.
Seorang dokter datang kepadaku dan memakaikan baju khusus pasien padaku, karena memang aku tak bisa melakukannya sendiri. Lalu dokter itu mengajakku mengobrol sambil membantuku memakai baju pasien.
“Namanya siapa dek?”
“Sidik dok”
“Oh, denger-denger baru lulus SMA ya? Sekolahnya dimana?”
“Di pesantren dok, Husnul Khotimah”
“Yang di kuningan itu ya?” tanya dokter itu dengan nada yang sedikit ditekan.
“Ia dok”
“Ia saya pernah dengar nama pesantren itu, tapi belum pernah kesana, hehe...”
Aku hanya bisa tersenyum, lalu dokter itu langsung membawaku ke ruang operasi. Dari obrolan bersama pak dokter tadi cukup bisa membuatku sedikit tenang.
Di ruangan itu sudah ada beberapa orang yang menyambutku. Disana ada dua dokter yang berdiri di samping ranjang operasi dan beberapa suster yang sudah bersiap di posisinya masing-masing. Di sekelilingku tampak peralatan operasi yang tersusun rapi baik gunting, baskom besi kecil berisi air, dan apalah yang lain yang tidak bisa ku sebut satu persatu. Namun hal yang paling menarik perhatianku adalah lampu operasi yang berbentuk lingkaran besar di atas ranjang operasi. Biasanya aku melihat lampu itu di video-video atau film, tapi saat ini aku melihatnya secara langsung. Tiba-tiba salah seorang dokter langsung membantuku bangun untuk pindah dari ranjangku menuju ranjang operasi. Setelah sampai di ranjang operasi, aku tidak langsung disuruh berbaring, tapi disuruh duduk dahulu. Salah satu dokter menyuntikkan sesuatu ke bagian tulang belakangku.
“Apa itu dok?” tanyaku penasaran.
“Ini obat ba’al dek, supaya waktu dioperasi kamu ga ngerasa sakit.”
“Oooo...”
Lalu aku langsung berbaring. Terlihat dokter itu sibuk menyiapkan kembali peralatan-peralatannya. Menit demi menit berlalu, tiba-tiba aku merasakan kakiku terasa berat, semakin lama semakin kaku, mungkin karena obat yang disuntikan tadi sudah mulai bereaksi.
“Dek, coba gerakkan kakinya”
“Ga bisa dok”, jawabku sekenanya.
“Oh ya sudah, berarti operasinya sudah bisa dimulai”
“Ia dok, makasih ya”
“Ia sama-sama, tenang ya dek ga usah mikir yang ngga-engga”
“Tolong ya dok”
Lalu dokter itu tersenyum dan langsung memasang besi di samping kanan dan kiri ranjang untuk dipasang kain penyangga agar aku tak bisa melihat perutku yang akan dioperasi. Lalu terdengar salah satu dokter mengucapkan basmalah dan melakukan sesuatu di perutku. Perutku terasa seperti di koyak-koyak namun tak terasa sakit. Dari situ aku sadar bahwa proses operasi sudah dimulai. Aku langsung menerawang ke lampu perasi yang tepat ada di atasku, lalu memejamkan mataku seraya berdzikir mamuji asma-Nya dan mengucapkan dua kalimat syahadat. Setelah itu aku merasakan aku berada di seperempat kesadaranku dan berdoa. Ya Allah, jika hari esok tak lagi datang padaku.. terimalah aku agar bisa hidup di kehidupan setelah dunia ini disisi-Mu...

Ketika hari esok terasa tak akan datang kembali... (Bagian 1)


“Alhamdulillah, akhirnya proses belajar selama 4 tahun di pondok pesantren Husnul Khotimah ini telah selesai”
Dengungku dalam hati ketika keluar dari kelas sehabis mengerjakan soal Ujian Nasional di hari terakhir. Hari itu tampak suasana kebahagiaan di raut wajah-wajah teman-teman seperjuanganku selama mengemban ilmu di pondok pesantren itu. Aku pun merasakannya, kepuasan yang tak terkira, yang tak akan bisa ku dapatkan jika ku hanya sekolah di SMA biasa. Beruntung aku bisa sekolah di sekolah yang luar biasa ini, yang telah mengajarkanku arti dari sebuah kehidupan dan perjuangan, yang membuat diriku menjadi lebih dewasa, dan yang pasti telah membuatku menjadi sesosok orang yang siap untuk menghadapi kerasnya seluruh tantangan hidup dikemudian hari. Semuanya saling bersalam-salaman sambil berfoto-foto ria di depan kelas dan di lapangan. Sungguh suasana yang tak akan ku lihat lagi dikemudian hari.
Ketika itu Ustadz Latifudin selaku ketua BPBK langsung mengumpulkan kami semua dan memberikan sedikit taujih yang diantaranya beliau berkata kurang lebih seperti ini “Hari ini bukanlah akhir dari kita-kita menuntut ilmu, namun hari ini adalah awal dari sebuah perjuangan untuk menuntut ilmu yang lebih banyak lagi”. Kata-kata itu masih melekat erat didalam syaraf otakku yang paling dalam.
Hari itu bebas, jika ingin keluar pondok sudah tidak harus memakai surat izin lagi, tinggal melambaikan tangan pada satpam sambil berjalan keluar pondok. Di Ponpesku satu kamar terdiri dari kurang lebih 30-an orang. Setelah ganti baju kami bercanda-canda di kamar merasakan kebahagiaan yang tak terkira, bayangkan saja kami santri disana ada yang menuntut ilmu selama 6 tahun yang dari MTs dan dari I’dad selama 4 tahun yang selama ini hidup didalam pondok yang penuh aturan, sebentar lagi akan merasakan udara kebebasan.
Setelah dzuhur tiba seperti biasa seluruh santri langsung ke masjid dan shalat dzuhur berjama’ah. Setelah shalat dan dzikirku selesai, aku dan sahabatku Fiqi pergi ke toserba fajar untuk membeli perlengkapan untuk mendaki karena esoknya kami satu angkatan akan mendaki gunung Ciremai yang letaknya tak jauh dari pondokku selama dua hari satu malam. Singkat cerita esok pun tiba dan kami mendaki gunung Ciremai sampai puncak, berfoto-foto ria, dan turun lagi. Saat itu sampai di pondok malam hari dan aku kelaparan, karena tidak ada makanan lagi aku pun langsung menyantap 2 bungkus mie instant sisa dari bekal pendakianku setelah itu langsung tidur. Paginya aku memutuskan untuk pulang ke rumah sebelum esok lusanya kami akan rihlah ke Yogyakarta yang sudah direncanakan jauh-jauh hari sebelum UN. Ponpes Husnul Khotimah terletak di Kabupaten Kuningan, tidak terlalu jauh dari rumahku yang ada di Cirebon, hanya butuh kurang lebih satu jam perjalanannya pertama naik mobil elf sampai Toserba Yogya Rajawali yang sekarang sudah menjadi Rajawali Trade Center (RTC) lalu naik angkot D6 atau D5 yang mau ke arah SMAN 3 Cirebon dan dilanjut naik becak sampai rumah karena tidak ada angkot lagi yang ke arah daerah rumahku.
Sesampainya di rumah aku langsung istirahat dan bercanda dengan adikku yang paling kecil masih kelas 5 SD karena orang tuaku semuanya sedang bekerja, jadi tidak ada di rumah. Ketika itu aku di rumah hanya bermain Play Station dan sorenya jalan-jalan naik motor menghirup udara Cirebon di sore hari bersama adik kecilku itu. Malamnya berkumpul bersama keluarga sambil menonton televisi di ruang tengah setelah itu langsung tidur.
Ketika bangun subuh ingin mengambil air wudhu, perutku terasa sakit tetapi aku rasa saat itu bukan sakit perut, sakit seperti mag yang sedikit melilit. Namun aku tidak menghiraukannya karena sebelum-sebelumnya aku pernah mengalami itu dan lama kelamaan selalu sembuh sendiri. Sore sekitar jam 5 aku berangkat lagi ke pondok karena jam 11 malamnya aku akan berangkat rihlah ke Yogyakarta bersama teman-teman seperjuangan. Ketika itu perutku masih terasa sakit, namun aku masih mengabaikannya karena dugaanku masih sama seperti yang sebelumnya. Ketika sampai pondok terlihat suasana teman-temanku yang sedang menyiapkan barang-barangnya sambil bercanda tawa. Tak terasa jam 11 malam pun tiba, kami langsung bersiap-siap menuju bus. Kami berangkat dengan 2 bus, dan aku kebagian duduk di bus kedua dan duduk bersebelahan dengan sahabatku fiqi. Pada awalnya suasana di dalam bus masih ramai dengan canda dan tawaan teman-temanku, tapi karena malam semakin larut lama-kelamaan satu per satu dari mereka pun tumbang karena kantuk yang tak tertahankan, begitu juga diriku. Sebelum ku hendak tidur aku merasa lega karena sakit perutku sudah tak terasa lagi, lalu aku mengangkat lututku menekuk dan menekan sandaran tempat duduk didepanku dahulu agar mendapatkan posisi ternyaman untuk tidur dan aku pun akhirnya tertidur.
Beberapa jam kemudian aku terbangun, aku melihat fiqi dan teman-teman disekelilingku tertidur, karena aku merasa tubuhku terasa pegal, aku pun ingin mengubah posisiku yang dari tadi selama berjam-jam posisinya tidak berubah. Tapi ketika aku turunkan lututku.
“krek”
Tiba-tiba perutku terasa sakit yang tak tertahankan, rasanya perutku seperti melilit dan ditekan dengan kerasnya sehingga bernafaspun aku tak mampu, aku hanya bisa mengeluarkan suara rintihan kecil sambil menahan sakit. Lama kelamaan pandanganku semakin kacau dan saat itu aku hanya bisa mendongakan kepalaku ke atas sambil memegang perutku seraya berdoa dan berdzikir, tiba-tiba aku pun tak sadarkan diri hingga pagi tiba. Semenjak itu perutku selalu melilit walaupun tak sesakit waktu malam. Ketika sampai di gua batu jajar kepalaku terasa sakit tapi ku paksakan untuk tetap ingin turun dari bus, tapi ketika ku bangkit dari tempat duduk perutku langsung terasa sakit melilit lagi. Aku bungkukan sedikit badanku dan sakitnya pun berkurang, tapi aku merasa tak kuat jadi aku tidak jadi untuk turun dan lebih memilih untuk istirahat saja di dalam bus. Banyak temanku yang bilang kalau sakitku itu mungkin hanya mag biasa sehingga aku tak terlalu mengkhawatirkannya. Singkat cerita selama rihlah ke yogya aku tak bisa  menikmatinya seperti teman-teman yang lain, kecuali Fiqi yang selalu menemaniku karena aku tak bisa jalan secara normal yang harus membungkukan badan dan melangkah dengan pelan agar sakit di perutku tak terasa. Padahal tujuan kami waktu itu ke beberapa kawasan wisata di Yogya seperti gua batu jajar, keteppas, candi borobudur, pantai parangtritis, malioboro, dll. Akhirnya rihlah ke Yogya selama 2 hari 3 malam pun selesai, kami sampai di pondok sekitar jam 3 pagi, dan aku pun langsung tidur.

Selasa, 02 Agustus 2011

Cara memahami diri menurut versi saya...


Pada dasarnya manusia adalah ciptaan yang paling sempurna yang telah Allah ciptakan diantara makhluk-makhlukNya. Maha suci Allah yang telah menciptakan manusia dari segumpal darah dan menjadi khalifah di muka bumi ini. Untuk memahami diri menurut saya kita harus mengetahui dahulu potensi apa saja kah yang berada pada kita, terutama yang sangat terlihat namun tidak disadari yaitu sistem kerja seluruh tubuh kita. Mulai dari saraf-saraf sampai sistem pencernaan. Selama ini gerakan-gerakan yang dilakukan oleh sistem pencernaan yang ada di dalam tibuh kita yaitu gerakan tak sadar, yang subhanallah telah tercipta gerakan-gerakan yang sistematis sehingga kebutuhan yang ada di tubuh seperti tenaga, vitamin, dan kebutuhan tubuh yang lainnya tetap terpenuhi. Lalu gerakan degupan jantung kita pun seperti itu, konon jantung setiap tahunnya berdegup sebanyak 35 juta kali tanpa henti. Kita pun dilengkapi dengan otak yang sangat luar biasa kemampuannya. Otak manusia memiliki lebih dari 100 milyar neuron dan sinyal saraf manusia itu dapat berjalan pada kecepatan lebih dari 400 km/jam.
                Sekarang coba kita bayangkan jika seluruh gerakan sistem pencernaan, degupan jantung, mengalirnya sinyal saraf hanya bisa bergerak jika kita gerakan, dengan kata lain digerakan dengan gerakan. Betapa repotnya kita hidup, mungkin setiap hari kita untuk mengatur yang ada di dalam tubuh kita saja hingga tak mempunyai waktu untuk melakukan pekerjaan yang lain seperti sekarang.
                Dari dalam tubuh kita sendiri saja kita sudah mempunyai banyak keluarbiasaan yang tak disangka-sangka oleh kita. Sesempurna dan sedetil itu kita telah diciptakan olehNya. Allah menciptakan manusia ke dunia ini dengan dibekali kelebihan-kelabihan itu. Lalu alasan apa lagi yang membuat kita untuk berkata “tidak bisa”, “tidak mampu”, “tidak mungkin”? Dengan kemurahanNya manusia telah diciptakan dengan segala kesempurnaannya, namun hanya sedikit orang yang memahaminya, dan hanya manusia yang mampu memahaminya yang menjadi pribadi luar biasa.
                Saya dalam memahami diri sendiri selain memakai cara yang seperti memperhatikan kesempurnaan tubuh kita, yaitu dengan cara mencari tahu apa kelebihan dan kekurangan kita karena kekurangan dan kelebihan kita juga cukup berperan penting dalam menentukan kesuksesan seseorang. Kadangkala orang suka menyalahkan kekurangannya untuk menjadikan alasan kegagalannya sehingga mereka tidak menjadi manusia yang produktif dan berguna, malah bahkan hanya menjadi pengemis di jalanan. Kadang saya juga meminta tolong pada teman dekat saya untuk mengoreksi sifat saya, mana yang mereka sukai dari saya dan yang mereka tidak sukai dari saya. Karena pada dasarnya manusia hanya bisa menilai orang lain dan tidak bisa menilai diri sendiri. Walaupun sesakit apapun kata-kata yang mereka lontarkan pada saya, saya terima apa adanya dan mencari solusinya agar tidak melakukan hal yang tidak disenangi oleh temanku tadi. Yang terakhir yaitu menggunakan cara self talk atau berbicara pada diri sendiri, seolah-olah kita ada dua orang, yang satu sebagai orang yang mengucapkan seluruh kenginginan-keinginan yang kita inginkan dan yang satu lagi sebagai orang yang mengoreksi apakah keinginan itu pantas untuk diwujudkan dan mencari solusi untuk mewujudkan keinginan-keinginan yang telah diucapkan oleh diri kita yang pertama tadi.
                Mungkin hanya ini saja cara-cara saya untuk memahami diri saya yang dapat saya tulis walaupun sebenarnya masih ada beberapa cara-cara yang lain lagi, namun cara-cara yang saya tulis ini adalah cara-cara yang paling sering saya pakai untuk memahami diri saya sendiri. Mohon maaf jika ada kata-kata saya yang menyakitkan atau menyinggung. Terima kasih, semoga bermanfaat.

Jumat, 29 Juli 2011

Keyakinan awal dari kemajuan

Asslamu ‘alaikum warahmtullahi wabarakaatuh

Hhhhhhhhhhmmmm... Ga tau kenapa dari kemarin gara-gara ikut lomba blog jadi termotivasi untuk nulis. Sebenernya mau nulis ini dan langsung di posting ke blog dari kemarin, tapi kemarin keburu kecapean jadi baru sekarang deh nulisnya, hehehe... Langsung aja deh ya ceritanya, karena ceritanya dari kemarin belum di tulis, jadi ceritanya dari kisah hari kemarin aja.
                Awalnya dari waktu hari selasa kemarin tanggal 26 juli 2011, tiba-tiba sore itu di sms sama salah satu teman saya yang tinggal satu kontrakan dengan saya, tapi dia lagi ada keperluan di Bandung. Dari SMS itu dia bilang kalau dia udah ikut daftar lomba buat blog tentang zakat di dompet dhuafa tapi karena dia belum bisa pulang jadi dia minta supaya bisa menggantikannya. Awalnya sih saya ragu untuk ikut, soalnya untuk nge-blog aja saya cuma tau dikit gara-gara pernah iseng-iseng bikin blog. Blognya ya blog yang ini. Tapi saya ingat pernah baca di buku Amazing you karangan dr. Andhyka P Sedyawan, beliau disitu menulis kalau kita mau jadi orang sukses coba lakukan sesuatu yang diluar batas kemampuan kita, nah dari situ pikiran saya langsung berubah, langsung aja saya menyanggupi tawaran itu. Tapi ada satu masalah lagi, karena itu lomba bikin blog jadi harus butuh koneksi internet sedangkan modem saya kuotanya lagi habis ditambah uang yang sekarat. Ya udah, alhasil saya maksain keluarin uang buat ngisi kuota modemnya. Malam itu juga saya langsung tancep gas naik motor Jupiter Z tahun 2007 saya ke Mall Belanova, satu-satunya Mall yang ada di Sentul City. Sampai sana saya langsung tarik duit cepe’ dan langsung ke konter HP buat beli pulsanya. Karena kartu modem saya pake 3, saya beli yang paket 2GB aja harganya 75.000. Pas sampe konter katanya ga ada yg 75.000 tapi kalau mau beli harus di pisah, pertama 50.000 terus kedua 25.000. Eh, katanya pas dicoba dikirim ternyata ga ada yang 25.000. Ya udah akhirnya di pisah lagi yang 25.000-nya jadi yang 20rb sama 5rb. Akhirnya ijab dan qabul pun dilaksanakan dan pulanglah saya ke rumah. Malam itu udah jam 9, tapi saya belum ngapa-ngapain. Pas pingin daftarin paketnya, ternyata pulsanya kurang 5rb, awalnya saya mau protes, tapi pas dihitung uang kembaliannya itu 26rb, berarti yang kepakai cuma 74rb, itu berarti saya cuma beli yg 50rb harga 52rb dan yang 20rb harga 22 ribu, hhhhhhhh... kehed lah, kirain udah di kirim semua, mau keluar kontrakan lagi juga udah terlanjur males akhirnya SMS-in temen-temen yang jual pulsa, tapi pada ga bales semua, di tunggu-tungguin eh malah sayanya ketiduran, wkwkwkwkwkwwk.... payah niye, belom ngapa-ngapain main tidur-tidur aja.
                Paginya bangun jam 5 lebihan dikit, habis itu langsung shalat terus sedikit baca tilawah, mau baca al-ma’tsurat tapi agak males gara-gara waktu itu kepikiran belom baca apa-apa tentang zakat dan coba-coba bikin blog lagi. Jadi langsung SMS-in temen-temen lagi tapi belum ada yang bales juga. Lombanya jam 10 tempatnya di daerah parung Bogor. Mau ga mau jam 7 harus udah berangkat. Sampai jam 7 pulsa yang kurang goceng doang susah banget dapetinnya, ya udah langsung aja berangkat. Singkat cerita ketika udah sampai di tempat acara lomba masih jam 9 pagi. Iseng-iseng nyalain laptop, eh ternyata pulsa yang goceng udah masuk dari temen yang jual. Langsung aja beli paketnya yang 2GB. Habis itu ke masjid dan sempetin shalat Dhuha 2 rakaat, stelah itu langsung coba baca-baca tentang zakat di internet. Jam 10 pun tiba dan acara dimulai dengan beberapa sambutan dengan diselingi hiburan perkusi yang dimainkan oleh anak-anak SMP Smart Dompet Dhuafa. Setelah itu dijelaskan tata tertib perlombaan dan kriteria penilaian. Lomba pun dimulai jam 11 “teng” yang diselingi dengan istirahat dan makan ketika shalat dzuhur tiba dan dilanjut lagi sampai jam 2 siang. Hhhhhhhhhhhmmmm... keajaiban pun terjadi, yang tadi awalnya saya pikir kalau saya ga bisa buat blog sekaligus buat artikel tentang zakat dalam waktu 2 jam, ternyata BISA. Saya semakin percaya dengan “keyakinan”. Kalau kita mengerjakan sesuatu sesulit apapun tapi kalau kita yakin bahwa kita bisa menyelesaikannya debarengi dengan kepercayaan kepada Allah, hasilnya pasti bisa. Allahu Akbar, Allah maha besar Tuhan semesta alam. Subhanallah, ternyata saya BISA !!! Setelah lomba selesai saya langsung nunggu pengumuman pemenangnya karena janji panitia yang hari itu juga langsung diumumkan pemenangnya dengan dipotong shalat ashar. Nungguin sampai sebelum maghrib, ternyata ga juara. HHhhhhhhhmmm... wajar juga sih, pesertanya banyak para blogger yang memang udah terbiasa bikin blog dan tulisan-tulisan. Kan ga adil kalau saya yang menang, tulisan saya biasa-biasa aja dan desainnya juga sederhana, terus mereka juga jam terbangnya udah banyak, jadi pasti lebih mahir dari saya yang baru saat itu ikutan lomba blogger, hehehe...
                Gak apa-apa deh, pengalaman hari kemarin cukup dijadiin pengalaman dan jadi batu loncatan untuk jadi lebih baik lagi ke depannya. Alhamdulillah sih udah dapet efek positifnya, contohnya sekarng jadi kepingin nulis-nulis pengalaman-pengalaman atau pelajaran-pelajaran apa aja yang didapetin dalam satu hari setiap hari. Hhhhhhhh... Poin dari pengalaman saya yang ini yaitu ketika kita yakin kalau kita bisa, sesulit apapun masalah itu pasti terpecahkan. Berarti benar apa yang dikatakan oleh motivator yang saya waktu itu ikuti seminarnya di Bogor. Beliau bilang “Sebenarnya segala sesuatu yang ada di dunia itu bersifat netral, namun tergantung dari persepsi kitanya apakah membuat peristiwa itu negatif atau positif.”
                Eeeeeeeemmmmmm.... udah ah, segini dulu aja ya, udah malem nih soalnya. Padahal cerita yang hari ini belum sempet diceritain, tapi ya mau gimana lagi, saya udah ngantuk banget, sedangkan besok ada kuliah dan langsung berangkat lagi ke jakarta buat ikutin pembekalan buat magang nanti bulan ramadhan, hehehehehe... bye... Bismika Allahumma ahya wa bismika amuut...

Wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakaatuh...

Sabtu, 16 April 2011

Tuhan mengizinkan jalan hidup kita berkelok-kelok dan tidak mulus
Banyak gelombang-gelombang persoalan yang menghantam kita
Langit yang kelam dan penuh awan badai.
Semua itu dibuat oleh-Nya supaya kita menjadi pribadi yang handal dan tahan uji dalam menjalani hidup ini.

Rabu, 19 Januari 2011

Si Pembunuh Impian


           Indonesia dikenal sebagai macan asia yang katanya sampai sekarang masih tertidur pulas di atas pembaringannya. Mengapa demikian? Sebenarnya apakah yang terjadi? Apa maksud dari kata-kata tersebut? Sebenarnya masyarakat Indonesia itu sendiri bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, hanya saja hati nuraninya belum terbuka untuk menjadikan bumi Indonesia yang sangat berpotensi ini menjadi Negara yang makmur, aman, dan sejahtera agar macan asia yang sedang tertidur itu bangun dan memimpin dunia. Baiklah, karena penulis sendiri adalah orang Indonesia asli, maka akan menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas secara sekaligus dan semoga dapat disetujui oleh para pembaca sekalian.
Sebenarnya banyak sekali faktor-faktor yang membuat macan asia ini belum bangkit-bangkit dari tidurnya, namun penulis lebih menitik beratkan pada suatu fenomena yang sudah dan sedang kerap terjadi di masyarakat Indonesia ini yang menjadi salah satu sebab Indonesia belum muncul sebagai Negara maju.
Dewasa ini banyak sekali terjadi diantara kita orang-orang mencemooh temannya sendiri ketika temannya tersebut memiliki mimpi-mimpi yang sepertinya tidak mungkin bisa dicapai oleh orang tersebut. Istilahnya yaitu “senang melihat orang susah dan susah melihat orang senag”. Kondisi ini sangat memprihatinkan sekali, karena ketika seseorang mempunyai mimpi-mimpi besar itu diejek dan dicemooh mungkin saja mimpi-mimpi besar itu akan dikubur kembali dalam-dalam oleh si pemimpi tersebut karena mental yang belum terlatih untuk memperjuangkan apa yang telah ia impi-impikan. Inilah yang disebut sebagai “Si Pembunuh Impian”. Mereka mungkin tidak menyadari telah melakukan hal itu namun dampaknya sangat besar terhadap kemajuan suatu Negara. Padahal orang-orang yang berani bermimpi besarlah yang akan membuat Negara bahkan dunia ini menjadi semakin maju. Contohnya Thomas Alfa Edison yang mempunyai impian besar ingin membuat sebuah lampu. Bayangkan jika saat itu Thomas dicemooh oleh teman-temannya dan mentalnya jatuh saat itu juga, mungkin saat ini dunia akan tetap gelap dan seperti tidak ada kehidupan dimalam hari dan dia juga yang membuat umat manusia di dunia saat ini bisa menikmati keindahan dunia malam karena gedung-gedung yang dihiasi dengan lampu-lampu yang berkelap-kelip dan berwarna-warni membuat suasana malam menjadi lebih hidup.
“Mimpi adalah kunci untuk kita menaklukan dunia” itulah penggalan lirik yang berjudul laskar pelangi yang dinyanyikan oleh grup band Nidji. Lirik itu sungguh sangat benar karena telah terbukti kebenarannya. Maka dari itu kita sebagai orang Indonesia berhentilah membunuh impian atau cita-cita seseorang, biarlah mereka bermimpi sesuka hati mereka walaupun sepertinya mustahil. Tuhan kita Maha Kuasa, mungkin saja mimpi-mimpi itu diwujudkan oleh-Nya, karena tidak ada yang tidak mungkin bagi Allah sang pencipta alam.
Mulai sekarang, ayolah bangsa Indonesia bangkit. Jangan hanya memikirkan hal-hal yang sepele, dukung lah orang-orang yang mempunyai mimpi dan pikiran yang besar, jika perlu bantu mereka, jangan saling menjatuhkan. Negara kita tidak maju-maju salah satunya karena masih sibuk mengolok-olok temannya yang mempunyai impian yang tinggi. Berpikirlah dan berjiwa besar !!!