Pagi harinya aku langsung ke klinik yang sudah disediakan oleh pondok untuk memeriksa sakit perutku. Ternyata dokter mengkhawatirkan kalau aku terkena infeksi di bagian usus buntu karena letak sakit perutnya yang berada di sebelah kanan. Lalu aku kembali dan ke kamar dan beristirahat. Di kamar teman-temanku menyarankan agar aku segera pulang untuk mengetahui kepastian sakit yang ada di perutku itu, tapi aku perlu istirahat dahulu karena tak mampu untuk berjalan dari pondok menuju jalan utama Kuningan-Cirebon. Setelah istirahat sampai jam 2-an akhirnya aku pulang dengan di antar naik motor oleh Nugraha, satu-satunya santri yang rumahnya paling dekat dengan pondok sampai jalan utama Kuningan-Cirebon. Lalu dari situ sampai ke cirebon aku menaiki elf. Sampai toserba yogya rajawali aku di jemput oleh ibuku dengan menaiki motor dan langsung di bawa ke dokter umum di dekat rumahku. Saat itu suasana sangat mendung dan angin pun bertiup kencang seakan memberitahuku akan ada sesuatu yang sangat mengerikan dan harus kuhadapi sendiri. Ketika diperiksa oleh dokter itu, hasilnya sama seperti waktu di klinik pondok, dokter itu langsung menyarankan kepada ibuku agar langsung dibawa ke rumah sakit. Akhirnya aku langsung dibawa ke rumah sakit khusus bedah di Cirebon dengan menggunakan mobil tetangga karena ayahku saat itu sedang bertugas keluar kota untuk menyelesaikan tugasnya.
Sesampainya di rumah sakit aku langsung diperiksa oleh dokter, lalu dokter itu berkata pada ibuku
“Ia bu, ini harus segera di angkat”
“Kapan dok?” tanya ibuku.
“Secepatnya, karena kalau tidak cepat-cepat diangkat dikhawatirkan ususnya akan pecah di dalam dan nanahnya akan menyebar lalu membusuk hingga bisa mengakibatkan kematian.”
“Astaghfirullah, apa salahku? Kenapa ini bisa terjadi?” rintihku dalam hati bercampur kaget arena sebelumnya tak pernah ku bayangkan.
Lalu dokter itu bertanya padaku, “Nak sidik kapan terakhir makan?”
“Tadi siang dok jam 11-an” jawabku sekenanya.
“oh kalau begitu bisa langsung malam ini jam 11, karena ada 3 pasien yang akan di operasi juga”
Saat itu pikiranku semakin tidak jelas, aku tak bisa membayangkan bagaimana nantinya ketika aku di operasi. Pikiranku melayang tak tentu arah, suasana rumah sakit yang agak ramai malah menjadi sangat mengerikan bagiku. Orang-orang yang bersliweran kesana kemari menjadi sangat menakutkan ditambah suara hujan lebat disertai deruan angin yang sangat kencang diluar rumah sakit. Ada dua pertanyaan yang saat itu tiba-tiba sangat melekat dikepalaku.
“Jika nanti malam aku dioperasi, apakah esok pagi aku masih bisa melihat indahnya dunia? Dan jika tidak, apakah bekalku sudah cukup untuk menghadap pada-Nya?”
Ketakutan yang amat sangat tengah ku rasakan saat itu, ibuku hanya bisa tersenyum melihatku sambil mengurus surat-surat kelengkapanku untuk memperlancar proses operasi nanti. Tiba-tiba aku ingat bahwa semua kemungkinan itu ada dan masalah kematian hanya Allah yang tau, semua makhluk yang bernafas akan merasakan kematian. Saat itu aku sedikit merasa tenang, aku langsung memposisikan jika kemungkinan esok tak akan lagi datang padaku. Aku langsung mengirim pesan pada semua teman-temanku yang nomor HPnya ada di kontak Hpku. Aku meminta maaf kepada semua teman-temanku lewat SMS yang ku kirim satu persatu. Walaupun sebenarnya hati ini merasakan kecemasan yang amat sangat, namun jangan sampai terlihat oleh semua orang disekitarku. Saat setelah di periksa, suster langsung membawaku ke suatu ruangan dengan memakai kursi roda. Aku masih merasakan ketakutan itu, takut hari esok tak akan pernah datang lagi padaku. Lorong demi lorong ku lewati bersama suster itu, suasana sepi dan senyap hanya kadang terlihat suster yang lewat kesan-kemari. Sesampainya di ruangan itu sudah ada dua orang laki-laki memakai baju putih yang satunya sedang memegang suntikan dan yang satunya sepertinya tengah mempersiapkan suatu alat. Laki-laki yang memegang suntikan itu langsung menghampiriku, lalu dia mengusap-usap bagian tanganku yang akan disuntik dengan memakai kapas dan segera menyuntikan suntikannya dan menyedot darahku, mungkin untuk dijadikan sampel darah. Setelah itu aku langsung dibawa menuju alat yang tengah dipersiapkan tadi oleh laki-laki yang satunya, lalu aku di tuntun olehnya karena ku tak bisa berjalan normal lagi untuk di rontgen. Setelah itu aku dibawa kembali untuk menuju ke kamar. Proses persiapan operasi telah selesai, aku langsung di infus dan sudah mulai boleh dikunjungi sebelum di operasi.
Waktu itu pukul 7 malam, ibuku sedang pulang untuk membawa barang-barang yang di perlukan selama aku di rawat di rumah sakit yang menemaniku hanya adikku yang perempuan. Selama satu jam aku mengobrol dengannya tentang apa saja yang waktu itu bisa di obrolkan, setelah itu ada satu temanku yang dari pesantren juga yang datang. Aku cukup merasa senang walaupun ketakutan hari esok yang tak akan datang lagi padaku masih terngiang-ngiang di kepala. Lalu aku pun bercerita-cerita dengannya sambil sesekali mataku melirik jam yang ada di dinding, namun ketika waktu menunjukan pukul setengah 10, aku mulai merasa mengantuk dan tertidur di tengah-tengah obrolan itu. Hanya sebentar aku tertidur karena jam sepuluh aku dibangunkan oleh suster yang akan membawaku ke ruang tunggu operasi sekaligus dengan ranjang tempat aku tidur. Ibu dan adikku turut mengikutiku melewati lorong-lorong rumah sakit menuju ruang tunggu operasi. Terlihat di raut muka keduanya harap-harap cemas, saat itu aku sangat ingin menangis, takut hari esok tak akan datang lagi dan aku tak bisa melihat mereka lagi apalagi ayahku yang sudah lama aku belum melihatnya semenjak aku beberapa bulan karena aku tinggal di pesantren, tapi aku tak bisa, aku harus kuat, aku harus memperlihatkan raut muka yang optimis agar keluargaku tak terlalu mencemaskanku ketika proses operasi berjalan.
Sesampainya di depan pintu ruang tunggu operasi ibu dan adikku tidak diperkenankan untuk ikut masuk kembali, aku hanya bisa terdiam dan pasrah sambil memejamkan mata dalam-dalam agar air mata itu tak keluar dari sela-sela mataku. Sesampainya di ruang tunggu operasi suster itu langsung meninggalkanku tepat di bawah AC yang di setting sangat dingin, mungkin agar mempermudah proses operasiku nanti. Sambil berbaring mataku menerawang ke atas langit-langit rumah sakit, tatapanku kosong. Hanya terlihat lampu yang terang menyinari ruangan itu. Dari luar terdengar suara rintikkan air hujan yang menetes-netes diselingi suara angin yang bertiup agak sedikit kencang. Dari ruangan tunggu itu terlihat ruangan operasi yang berada tepat disebelah ruangan tungguku. Keadaan didalam bisa sedikit terlihat karena ruangannya hanya ditutup dengan kaca yang buram dan cahaya di dalam yang lebih terlihat terang dibanding ruanganku. Didalamnya terlihat ada 3 bayangan orang yang sedang menunduk dan seperti memainkan tangan-tangannya dan beberapa bayangan lain sedang berdiri entah sedang apa. Aku hanya bisa terdiam dan kembali menerawang ke langit-langit ruangan itu. Walaupun aku terlihat tenang, namun hatiku saat itu menjerit. Hanya Allah dan aku yang tau kondisi hatiku saat itu. Ya Allah, jika hari ini adalah hari terakhir bagiku, apakah aku sudah siap untuk menghadapMu? Apakah amalan ku sudah cukup untuk mengantarkanku ke dalam Jannah-Mu? Apakah masih ada diantara teman-temanku yang benci kepadaku? Apakah masih ada hutang yang belum terbayarkan? Apakah aku pantas untuk berkumpul dengan para Rasul, sahabatnya, serta tabi’in dan tabi’atnya? Aku tak bisa menjawab satupun pertanyaan-pertanyaanku sendiri. Hanya tatapan kosong yang bisa kulakukan. Detik demi detik, menit demi menit berlalu. Tubuhku terjaga karena rasa takut jika ku memejamkan mata sekarang, esok tak bisa terbuka lagi. Setelah kurang lebih satu jam aku menunggu, jam sebelas malam pintu ruang operasi terbuka. Terlihat pasien yang baru dioperasi dibawa oleh beberapa suster bersama ranjangnya keluar ruangan.
Seorang dokter datang kepadaku dan memakaikan baju khusus pasien padaku, karena memang aku tak bisa melakukannya sendiri. Lalu dokter itu mengajakku mengobrol sambil membantuku memakai baju pasien.
“Namanya siapa dek?”
“Sidik dok”
“Oh, denger-denger baru lulus SMA ya? Sekolahnya dimana?”
“Di pesantren dok, Husnul Khotimah”
“Yang di kuningan itu ya?” tanya dokter itu dengan nada yang sedikit ditekan.
“Ia dok”
“Ia saya pernah dengar nama pesantren itu, tapi belum pernah kesana, hehe...”
Aku hanya bisa tersenyum, lalu dokter itu langsung membawaku ke ruang operasi. Dari obrolan bersama pak dokter tadi cukup bisa membuatku sedikit tenang.
Di ruangan itu sudah ada beberapa orang yang menyambutku. Disana ada dua dokter yang berdiri di samping ranjang operasi dan beberapa suster yang sudah bersiap di posisinya masing-masing. Di sekelilingku tampak peralatan operasi yang tersusun rapi baik gunting, baskom besi kecil berisi air, dan apalah yang lain yang tidak bisa ku sebut satu persatu. Namun hal yang paling menarik perhatianku adalah lampu operasi yang berbentuk lingkaran besar di atas ranjang operasi. Biasanya aku melihat lampu itu di video-video atau film, tapi saat ini aku melihatnya secara langsung. Tiba-tiba salah seorang dokter langsung membantuku bangun untuk pindah dari ranjangku menuju ranjang operasi. Setelah sampai di ranjang operasi, aku tidak langsung disuruh berbaring, tapi disuruh duduk dahulu. Salah satu dokter menyuntikkan sesuatu ke bagian tulang belakangku.
“Apa itu dok?” tanyaku penasaran.
“Ini obat ba’al dek, supaya waktu dioperasi kamu ga ngerasa sakit.”
“Oooo...”
Lalu aku langsung berbaring. Terlihat dokter itu sibuk menyiapkan kembali peralatan-peralatannya. Menit demi menit berlalu, tiba-tiba aku merasakan kakiku terasa berat, semakin lama semakin kaku, mungkin karena obat yang disuntikan tadi sudah mulai bereaksi.
“Dek, coba gerakkan kakinya”
“Ga bisa dok”, jawabku sekenanya.
“Oh ya sudah, berarti operasinya sudah bisa dimulai”
“Ia dok, makasih ya”
“Ia sama-sama, tenang ya dek ga usah mikir yang ngga-engga”
“Tolong ya dok”
Lalu dokter itu tersenyum dan langsung memasang besi di samping kanan dan kiri ranjang untuk dipasang kain penyangga agar aku tak bisa melihat perutku yang akan dioperasi. Lalu terdengar salah satu dokter mengucapkan basmalah dan melakukan sesuatu di perutku. Perutku terasa seperti di koyak-koyak namun tak terasa sakit. Dari situ aku sadar bahwa proses operasi sudah dimulai. Aku langsung menerawang ke lampu perasi yang tepat ada di atasku, lalu memejamkan mataku seraya berdzikir mamuji asma-Nya dan mengucapkan dua kalimat syahadat. Setelah itu aku merasakan aku berada di seperempat kesadaranku dan berdoa. Ya Allah, jika hari esok tak lagi datang padaku.. terimalah aku agar bisa hidup di kehidupan setelah dunia ini disisi-Mu...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Klo mau komen pake bahasa yang baik n santun ya